doa berkendara

29 Sep

Berkendaraan merupakan aktivitas
sehari-hari di masa kini. Sederhana
nampaknya. Akan tetapi perjalanan
kita sukses atau tidak, selamat atau
celaka, bahkan senang atau
menderita juga ditentukan oleh
kendaraan yang kita tumpangi.
Ke Bandung dari Jakarta yang
semestinya ditempuh tiga jam lewat
jalan Tol bisa menjadi empat atau
lima jam jika lewat Cianjur Bogor.
Belum lagi apakah kendaraan itu
sehat atau sakit-sakitan. Mogok di
jalan dan diperbaiki dua jam di
bengkel bakal memperpanjang waktu
tempuh. Ke Surabaya naik pesawat,
kereta atau mengendarai mobil bagi
beberapa kalangan dapat
mempengaruhi kesuksesan bisnis.
Demikian juga di dalam kota kita
senantiasa berhubungan dengan
kendaraan apakah mobil pribadi,
angkutan umum, motor, atau
kendaraan lainnya. Hampir
keseharian kita bersentuhan dengan
alat transportasi yang kita kendarai.
Kendaraan ini menjadi sarana untuk
mengangkut dari satu tempat ke
tempat lain. Memenuhi maksud atau
hajat yang hendak dituju. Meskipun
kita yang punya motif dan ikhtiar
untuk mengendarainya, namun
hakekatnya Allah lah yang
“mengendalikan” nya.
Agama memiliki kepedulian dan
menilai tinggi bepergian dengan
kendaraan ini. Allah angkut
hambanya di darat dan di laut agar
ia mendapat rezeki yang baik-baik
(QS Al Israa 70). Alquran
menyinggung kendaraan pengangkut
masa lalu ada unta, kuda, keledai,
bahkan gajah. Seluruhnya
disediakan untuk manusia agar
terpenuhi hajat kebutuhannya. Kini
dengan kendaraan yang lebih
beragam dan modern kita pun tetap
menempatkannya sebagai karunia
Allah yang besar. Untuk itu amalan
keagamaan dalam berkendaraan
patut untuk mendapat perhatian,
yaitu:
Pertama, menaiki dengan bismillah
dan tawakkal kepada Allah.
“ Bismillahi tawakkaltu alallahi laa
haula walaa quwwata illa billah”.
Segala hal yang diawali dengan
bismillah dan tawakal kepada Allah,
insya Allah membawa berkah dan
keselamatan.
Kedua, berdoa yang disunnahkan
Rasulullah, doa dahsyat mana dinilai
sangat penting untuk memayungi
perjalanan berkendaraan kita.
Unsur-unsur do’a dalam Hadits
Riwayat Sya’fiie ini adalah:
— Setelah bertakbir, membaca
“ Subhaanal ladzii sakhkharolanaa
haadzaa wa maa kunnaa lahu
muqrinin, wa innaa ilaa robbinaa
lamunqolibuun ” (Mahasuci Allah
yang telah menundukkan kendaraan
ini, padahal kami tak kuasa
menundukkannya dan kepada Allah
lah kami semua dikembalikan).
Pernyataan Ini merupakan
pengakuan dan kesadaran bahwa
Allah yang menggerakkan dan
mengendalikan kendaraan tersebut.
— “ Allahumma innaa nas’aluka fie
safarinaa hadzal birro wat taqwa wa
minal ‘amali maa tardhoo” (Ya Allah
kami mohon kepadamu dalam
perjalanan ini kebaikan dan
ketakwaan serta amal yang diridhoi).
Perjalanan yang membawa manfaat.
Jangankan keburukan, amal yang sia-
sia pun mohon agar dihindarkan.
— “ Allahumma hawwin ‘alainaa
safaronaa hadzaa wa athwi ‘annaa
bu’dahu ” (Ya Allah mudahkanlah
perjalanan ini, dekatkanlah jarak
jauhnya). Berkendaraan dapat
mengesalkan dan mungkin
mengalami berbagai kesulitan, kita
mohon agar dimudahkan. Jarak
sejauh apapun kiranya dapat
dirasakan dekat. Sebab sebaliknya,
kadang jarak dekat pun dirasakannya
jauh dan mengesalkan. Faktor
kemacetan misalnya.
— “ Allahumma antash shoohibu fiis
safar wal kholiifatu fiil ahl ” (Wahai
allah, Engkau adalah sahabat dalam
perjalanan dan pengganti dalam
keluarga hamba). Nah dengan ini
akan tenanglah kita, karena
bagaimana tidak, Allah yang
menemani perjalanan dan Allah
pula yang mengatur, mengurus, dan
melindungi keluarga yang
ditinggalkan.
— “Allahumma inni a’uudzubika min
wa’tsaa-is safar, wa ka-abatil
mandhor, wa su-il munqolabi fiel
maali wal ahl ” (Ya Allah aku
berlindung dari kesulitan
perjalanan, dan performance yang
jelek dalam urusan harta dan
keluarga sekembalinya nanti).
Alangkah bahagianya jika sekembali
dari bepergian Allah SWT
memberikan banyak harta dan
keceriaan keluarga.
Ketiga, selama di perjalanan tentu
banyak beristghfar dan berzikir,
mengingat Allah. Rasulullah SAW
jika berkendaraan berjalan mendaki
senantiasa memperbanyak takbir,
jika jalan menurun maka Beliau SAW
memperbanyak kalimat tasbih.
Dengan demikian akan selalu
terjaga dan waspada.
Keempat, Jika telah hampir tiba, kita
bermohon agar tempat yang dituju
memberi kebaikan dan terlindungi
dari berbagai kejelekan yang
merusak dan membahayakan.
“A llahumma inni as-aluka khoirohaa
wa khoiro ahlihaa wa khoiro maa
fiihaa. Wa a’uudzubika min syarrihaa
wa syarri ahlihaa wa syarri maa
fiihaa” (Ya Allah, aku memohon
kebaikan, kebaikan penduduknya,
dan kebaikan segala sesuatu yang
ada di tempat ini. Aku berlindung
dari kejelekan, kejelekan
penduduknya, dan kejelekan segala
sesuatu yang ada di tempat ini).
Dengan amalan yang dituntunkan
oleh agama ini, insya Allah
berkendaraan kita akan aman,
nyaman, dan menjadi jalan bagi
kesuksesan yang akan didapat di
depan. Ada dalam pertolongan dan
perlindungan Allah. Terlalu banyak
terjadi kecelakaan memilukan yang
disebabkan oleh faktor kelalaian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: